Fans Sepakbola Sejati Tak Selalu Menuntut Prestasi

Kalau ditanya apa itu fans sepakbola sejati, hampir semua orang akan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu mendukung tim favoritnya.

Ada tambahannya. Baik suka maupun duka.

Reza Kecil

Faktanya, banyak orang yang ngakunya fans sejati, tapi langsung marah-marah kalau tim kesayangannya kalah.

Tak hanya lawan, tim yang dibela pun terkadang jadi sasaran kemarahan.

Kalau sudah begini, apa pantas disebut sebagai fans sejati?

Saya kenal dengan sepakbola sekitar tahun 1994, dan waktu itu masih berusia 6 tahun (Kelas 1 SD).

Siang itu, Saya menonton tayangan ulang final piala dunia 1994 antara Brazil vs Italia.

Dan kita sama-sama tau, Brazil akhirnya jadi juara dunia yang ke-4 kalinya setelah menang adu penalti melawan Tim Azzurri.

Sejak saat itu, sepakbola selalu menjadi hobi Saya.

Bahkan waktu kelas 2 SMP, Saya pernah ikut klub sepakbola di sekolah, dan bercita-cita ingin menjadi pemain bola.

Karena kala itu berposisi sebagai gelandang bertahan di tim, Saya pun memimpikan bisa sejago Demetrio Albertini.

Saya ngefans sama AC Milan, dan tak terlalu fanatik buta pada pemain-pemainnya.

Saya pernah menyaksikan gol indah Andres Guglielminpietro (Guly) di pertandingan Milan vs Perugia, dan membuat kami menjuarai scudetto 1998/1999.

Beberapa tahun kemudian (Musim 2000-2001), guly hijrah ke tim rival Inter Milan, dan Saya tak sakit hati, apalagi mengumpat.

Saya juga lompat kegirangan ketika tendangan penalti Sheva berhasil mengecoh Gigi Buffon di final UCL 2002/2003, dan kami berhasil menjuarai Liga Champions musim itu.

Lagi-lagi, Saya biasa saja ketika melihat Sheva pindah ke Chelsea pada musim 2006-2007.

Dan yang paling membekas dalam ingatan, adalah kekalahan di final Liga Champions 2004/2005 kontra Liverpool.

Karena saat itu, kami sudah unggul 3 gol sampai turun minum.

Meskipun bisa membalasnya 2 tahun kemudian dan berhasil jadi juara di ajang yang sama, kenangan pahit Istanbul 2005 tak akan pernah bisa dilupakan.

Mirip dengan apa yang dirasakan fans Bayern di Camp Nou 1999.

Itu adalah kisah suka dan duka Saya sebagai tifosi Milan. Ada senangnya, dan ada sedihnya.

Indikator Fans Sepakbola Sejati Menurut Saya

Saat mempublikasikan tulisan ini (3 November 2017), Milan dibawah komando Vincenzo Montella sedang terpuruk.

Apakah Saya lantas mencaci maki para pemain, pelatih, klub?

Tentunya tidak.

Karena Saya paham, sepakbola itu adalah pertandingan. Ada menang dan ada kalah.

Saya tetap respect pada tim rival, sambil tetap optimis bahwa Milan akan sukses lagi.

Terkadang, sangat lucu melihat komentar orang-orang yang ngakunya fans sepakbola, tapi selalu mencaci maki tim lawan dan bahkan tim nya sendiri ketika mengalami kekalahan.

Kalau ingin selalu menang, bukan di pertandingan sepakbola tempatnya.

Silahkan main Pro Evolution Soccer-nya konami di rumah atau di rental, dan restart kalau tim kita kalah.

Kalau memang fans sejati, jangan menuntut agar tim kita selalu meraih kemenangan di setiap pertandingan. Karena hal itu jelas tidak mungkin.

Kalau memang fans sejati, hormati setiap lawan.

Di atas lapangan memang menjadi rival, tapi di luar lapangan, mereka adalah teman. Itulah sportivitas.

Tak perlu menunjukkan seberapa hafal dan pahamnya kita pada sejarah klub yang didukung.

Kalau memang fans sepakbola sejati, sudahkah kita menghargai tim yang kita bela dengan benar?

Termasuk tidak menerobos masuk stadion tanpa membeli tiket masuk, atau tidak membeli jersey bajakan?

Fans Sepakbola Sejati
Jersey ORI Milan Hadiah Dari Abang Ipar

Yang terakhir mungkin agak sedikit keras.

Tapi Saya pribadi beranggapan, fans sejati itu diperlihatkan melalui tindakan. Bukan hanya sekedar perkataan.

Support Your Team & Respect Your Enemy (Sparring Partner).

Forza Milan!

Author: Reza Aditya

Blogger || Internet Marketer (SEO) || Entrepreneur (Online Shop)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *