Full Time Blogger Dipandang Sebelah Mata, Faktanya…

Full Time Blogger Dipandang Sebelah Mata

Bagi Saya tahun ini mengajarkan banyak hal dalam hidup.

Terutama dalam ladang pencaharian, dimana sebelumnya Saya bekerja sebagai Human Capital Business Partner, dan dalam seketika harus banting stir menjadi seorang Full Time Blogger.

Ini adalah satu profesi yang sejatinya sangat Saya impikan.

Hanya saja karena kondisi saat ini telah berumah tangga, tentu ada tuntutan untuk memberi “rasa aman” bagi keluarga, khususnya untuk istri dan anak.

Ketika menjadi karyawan sudah barang tentu Saya memiliki penghasilan pasti. Tiap bulan ada sekian rupiah yang kemudian Saya distribusikan ke pos – pos yang mau tidak mau harus diselesaikan.

Tak ada rasa takut sedikitpun akan kebutuhan finansial.

Saya juga memiliki ritus yang sangat baik, kapan harus bekerja dan kapan harus rebahan. Satu kondisi yang sebenarnya tidak baik karena terjebak dalam zona nyaman.

Tapi begitu pandemi masuk ke tanah air, semua itu terkoyak.

Selain penghasilan itu harus hilang, tentunya saya harus menciptakan ritus baru. Satu kegiatan yang bisa jadi setiap hari akan berubah – ubah karena memasuki babak baru sebagai Full Time Blogger.

Suka Duka Melakoni Full Time Blogger

Suka Duka Menjadi Full Time Blogger

Bagi Saya menjadi Full Time Blogger adalah kebahagiaan yang hakiki.

Dimana kita bisa berekspresi dalam bentuk tulisan, untuk kemudian kita tuangkan dalam platform digital berupa blog. Apa saja bisa Saya tulis tanpa tedeng aling – aling.

Bisa bekerja kapan saja dan dimana saja tentu menjadi satu privilege yang tidak banyak dimiliki semua orang.

Saya bisa menulis kapan saja dan dimana saja, bahkan menjelang tidur pun bisa kalau terlintas ide, gagasan, atau kegelisahan.

Seringkali ide – ide itu Saya tuliskan terlebih dahulu dalam kertas atau buku, untuk kemudian Saya ketik ulang dan dikembangkan.

Menggunakan konsep mikro spesifik, itu yang coba Saya usung. Dimana bila kita memberikan sebuah ulasan, itu harus sampai ke akar – akarnya.

Kepala ini bagaikan kendi, dan otak itu bagaikan air yang harus dituang hingga bersih. Sedangkan gelas itu adalah perwakilan dari platform blog, dimana apa yang disajikan harus jernih.

Tanpa prasangka atau praduga, menulis dengan kejujuran juga bisa menjadi bagian dari katarsis yang ampuh.

Sering Saya melihat beberapa kawan menuangkan unek – unek atau masalah di sosmed dan bisa jadi itu unfaedah. Lain cerita bila di tulis di dalam blog yang kemudian disertai dengan kesimpulan.

Menulis itu gampang – gampang susah. Kalau tidak percaya coba cek orang di sekitar kamu, dan tanyakan untuk membuat satu artikel butuh waktu berapa lama.

Mungkin ada yang jawab 15 menit atau 30 menit. Tapi tak jarang juga ada diantara mereka yang mencoba menulis berjam – jam, namun tak kunjung ada hasil.

Menulis itu tak ubahnya kita bersepeda. Dimana Kita harus terus mengayuh. Dan pedal itu terkadang ada diatas, dan terkadang ada di bawah. Tak perlu disesali posisi ada dimananya.

Cukup percaya bahwa suatu saat nanti kita akan sampai di tujuan. Catet!!!

Bila dulu menulis hanya sebatas hobi, kini ada peningkatan. Karena dengan menulis Saya masih bisa bertahan hidup. Dan ini menjadi salah satu modal untuk pensiun di usia 40 tahun.

Menulis itu memberi kesempatan bagi Saya untuk bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

Menulis juga memberi kesempatan untuk mengikuti sejumlah event yang sudah pasti tidak bisa diikuti tanpa keterampilan itu.

Banyaknya manfaat yang bisa didapat dari kegiatan ini yang memaksa alam bawah sadar untuk terus bertahan.

Sampai kelak tidak mampu menulis dan gantung pena, maka saya tetap akan menulis.

Bila ada sekian banyak kebahagiaan dalam menulis, mungkin orang akan berpikir, adakah duka dalam menulis atau menjadi seorang Full Time Blogger?

Bagi mereka yang sudah berkeluarga tentu menjadi duka karena pendapatan tidak menentu. Tapi selama manajemen keuangan tertata dengan baik, semua itu tak jadi masalah.

Kalau ditanya hal lain apa yang menjadi duka ketika menulis, bagi Saya adalah menemukan satu tema / ide gagasan, tapi tidak bisa meng-eksekusinya karena minim pengetahuan dan informasi.

Semisal saya ingin mengulas tentang teknologi 5G. Tapi secara keilmuan, Saya benar – benar tidak memahami. Artinya Saya masih harus belajar dan banyak membaca.

Terakhir, terkait sudut pandang Saya sebagai Full Time Blogger, profesi ini akan lebih menyenangkan bagi mereka yang belum berkeluarga.

Tapi sekali lagi, selama memiliki manajemen keuangan yang baik, profesi ini sangat menjanjikan untuk siapa saja.

Sebaliknya jika tidak bisa mengelola keuangan dengan baik, profesi Full Time Blogger akan dipandang sebelah mata, karena (Dianggap) tidak bisa mencetak slip gaji.

Saya Adalah Seorang Full Time Blogger
Joko Yugiyanto – Full Time Blogger

Artikel ini merupakan guest post dari Joko Yugiyanto. Beliau merupakan seorang Full Time Blogger asal Jogja yang saat ini berdomisili di Tangerang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *