Jasa
Contact Merezaditya88@gmail.com

Optimasi Inklusi Keuangan Syariah di Indonesia [Rembuk Republik]

Optimasi berarti mengoptimalkan. Sedangkan inklusi bisa diartikan sebagai ketercakupan (Lihat KBBI: https://kbbi.kemdikbud.go.id/).

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa inklusi keuangan syariah merupakan langkah nyata untuk mengoptimalkan ketercakupan keuangan syariah di Indonesia.

Rembuk Republik Inklusi Keuangan Syariah

Tujuannya agar setiap orang bisa mengakses layanan ini, dan merasakan manfaatnya dengan biaya yang PAS.

Well, artikel yang Saya tulis kali ini mungkin agak berat dari biasanya.

Supaya lebih rileks, Anda bisa ngopi atau ngeteh sambil membacanya.

Siap? Yuk kita lanjut.

Jadi, Senin 14 Mei 2018 kemarin, Saya berkesempatan hadir pada event rembuk republik dengan tema “Memicu Inklusi Keuangan Syariah.”

Event yang diinisiasi oleh Republika ini berlokasi di Hotel JS Luwansa, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, dan membahas salah satu produk dari Prudential Indonesia, yakni PRUlink Syariah.

Saya tiba di lokasi sekitar jam 11.30 WIB, dan langsung menuju meja registrasi di lt.1 – ballroom. Di sana sudah banyak tamu undangan yang datang, termasuk rekan media dan para blogger.

Setelah registrasi, Saya langsung menuju mushola untuk sholat Dzuhur. Dan setelahnya langsung kembali ke ballroom untuk makan siang bersama tamu undangan lainnya.

Makan Siang Bersama
Suasana Makan Siang Bersama

Setelah makan siang, acara dibuka dengan welcome speech dari Irfan Junaidi (Pimpinan Redaksi Republika), dan dilanjutkan oleh Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro sebagai keynote speaker 1.

Pimpinan Redaksi Republika Irfan Junaidi
Pimpinan Redaksi Republika Irfan Junaidi

Beliau memaparkan tentang capaian dan prestasi inklusi keuangan syariah di Indonesia selama dua dasawarsa terakhir.

Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro
Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro

Beberapa diantaranya adalah pertumbahan yang stabil, jumlah lembaga keuangan syariah terbanyak, jumlah nasabah ritel terbesar, dan satu-satunya penerbit sukuk ritel di dunia.

Namun selain prestasi tersebut, ada satu PR yang harus kita kerjakan bersama, yakni faktor kualitas.

Singkatnya, kuantitas yang ada harus diimbangi juga dengan kualitas.

Untuk mensupport hal ini, pemerintah selaku regulator telah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti:

  • Peraturan Presiden nomor 82 tahun 2016 tentang strategi nasional keuangan inklusif
  • Peluncuran masterplan arsitektur keuangan syariah Indonesia
  • Peluncuran komite nasional keuangan syariah (KNKS)

Salah satu statement Pak Menteri yang Saya ingat adalah,

“Jangan jadikan lembaga keuangan syariah sebagai pilihan kedua, setelah Anda TIDAK DITERIMA di lembaga keuangan konvensional.”

Statement ini cukup mengena di hati.

Keynote speaker berikutnya adalah Boedi Armanto (Deputi Komisioner OJK).

Deputi Komisioner OJK Boedi Armanto
Deputi Komisioner OJK Boedi Armanto

Beliau berpesan bahwa salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan indeks inklusi keuangan syariah di Indonesia adalah dengan sinergi fintech.

Dan dalam hal ini, pihak OJK mengkonfirmasi kesiapannya untuk mensupport perkembangan fintech dan inovasi berbasis teknologi dengan infrastruktur yang memadai.

Namun OJK tentu saja tetap butuh dukungan semua pihak yang berkepentingan.

Setelah 2 keynote speaker selesai dengan penjabarannya masing-masing, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara Pak Menteri dan 3 orang panelis yang akan melanjutkan sesi berikutnya.

Foto Bersama Menteri dan Panelis
Dari kiri ke kanan: Jens Reisch, Irfan Syauqi Beik, Boedi Armanto, Bambang Brodjonegoro, Irfan Junaidi, Adiwarman Karim

Sekitar jam 15.30 WIB, acara dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderatori oleh Elba Damhuri (Kepala Republika.co.id) bersama 3 orang panelis.

Ada Irfan Syauqi Beik (Ketua 1 IAEI), Adiwarman Karim (Wakil Ketua DSN MUI), dan Jens Reisch (Presiden Direktur Prudential Indonesia).

Sesi pertama dibuka oleh Adiwarman Karim.

Saya sempat baca dan jadikan buku beliau (Ekonomi Makro dan Mikro Islami) sebagai salah satu referensi waktu masih kuliah di Unand dulu (2006 – 2010).

Karena konsentrasi yang Saya ambil waktu itu memang Ekonomi Syariah, jadi Saya cukup familiar dengan nama beliau.

Tapi ini adalah pertama kalinya Saya bertemu (Itu pun hanya lihat di panggung) dengan Pak Karim.

Adiwarman Karim
Adiwarman Karim

Satu statement beliau yang Saya ingat di event rembuk republik ini adalah,

“Kita bukan mau mengajak orang masuk Islam, tapi kita ingin menjual produk asuransi (Syariah) yang insyaAllah bermanfaat bagi semua orang.”

Cukup make sense, karena butuh argumen dan edukasi terhadap produk asuransi syariah, agar orang menggunakannya karena memang merasa butuh, bukan karena ‘Terpaksa.”

Sesi kedua dilanjutkan oleh Jens Reisch (Presiden Direktur Prudential Indonesia).

Presiden Direktur Prudential Indonesia Jens Reisch
Presiden Direktur Prudential Indonesia Jens Reisch

Awal mula ia naik ke atas panggung dan mengeluarkan kata pertamanya, Saya langsung memberikan applause.

Bukan karena apa yang dia ucapkan, tapi karena ia MAU mengucapkan apa yang ingin disampaikan dengan bahasa Indonesia, walaupun masih terbata-bata.

Jens Reisch menyampaikan bahwa dari 260 juta penduduk Indonesia, 87% nya beragama Islam, namun baru sekitar 7% yang memiliki polis asuransi jiwa.

Sangat disayangkan memang.

Tapi kabar baiknya, asuransi jiwa syariah di Indonesia tumbuh lebih cepat dalam 7 tahun terakhir CAGR.

*CAGR (Compound Annual Growth Rate) sering juga disebut sebagai laju pertumbuhan majemuk tahunan.

Ya, jika asuransi jiwa hanya tumbuh sekitar 14%, asuransi jiwa syariah bisa tumbuh hingga 21%!

Dan dari angka 21% tersebut, PRUlink Syariah merupakan pemimpin pasar!

Sejak berkecimpung di segmen asuransi jiwa syariah pada 2007, prudential Indonesia bisa menjadi market leader dengan kontribusi dana tabarru sebesar Rp 2,2 triliun per akhir 2016.

Jens Reisch juga menegaskan bahwa PRUlink Syariah diperuntukkan bagi semua kalangan (Dari mulai generasi milenial hingga orang dewasa) yang ingin mengambil manfaatnya.

Kedepannya PRUlink Syariah akan terus bersinergi dengan beberapa pihak terkait seperti: KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah), OJK, MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), MUI, dan lain sebagainya.

Untuk target jangka panjang, PRUlink Syariah juga telah menyiapkan rencana, termasuk akan spin off pada 2024 mendatang.

Setelah sesi Jens Reisch selesai, berikutnya ada Irfan Syauqi Beik (Ketua 1 IAEI) yang tampil di sesi ketiga.

Masukan dari beliau,

“Samakan persepsi terlebih dahulu sebelum mengedukasi calon konsumen.”

Intinya, sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang manfaat produk PRUlink Syariah, jelaskan juga bahwa ini adalah produk keuangan syariah yang sebaiknya digunakan.

Irfan Syauqi Beik
Irfan Syauqi Beik

Beliau juga sempat menyinggung soal zakat inklusion yang diyakini juga berpotensi jika dioptimalkan.

Setelah sesi Pak Irfan Syauqi Beik selesai, acara dilanjutkan dengan beberapa tanya jawab, dan diakhiri dengan foto bersama para panelis dan perwakilan prudential Indonesia.

Foto Bersama

Ada beberapa kesimpulan yang bisa Saya ambil dari rembuk republik inklusi keuangan syariah ini:

Pertama, potensi perkembangan ekonomi Syariah di Indonesia sangatlah besar, mengingat lebih dari 80% penduduk di Indonesia beragama Islam (Dari total 260 juta penduduk).

Kedua, sebagian masyarakat Indonesia sudah mulai sadar dan teredukasi untuk menggunakan produk keuangan syariah.

Ketiga, langkah konkret pemerintah yang telah mengeluarkan berbagai kebijakan terkait keuangan syariah juga akan sangat menguntungkan.

Harapannya, semoga Indonesia tidak hanya menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tapi juga menjadi negara dengan jumlah pengguna produk keuangan syariah terbesar di dunia. Semoga.

Bersama Mas Robit, Ketua Blogger Jakarta (Kanan)
Foto di akhir acara: Saya (Kiri) Bersama Ketua Blogger Jakarta, Mas Robit

#PrudentialIndonesia #PRUlinkSyariah

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *