Jasa
Contact Merezaditya88@gmail.com

Biasakan Membeli Untuk Mengapresiasi Karya Teman

Rasanya masih banyak dari kita yang belum paham akan pentingnya membeli untuk mengapresiasi.

Dan ketika di-arahkan untuk membeli, banyak dari kita yang membalas dengan jurus andalan: Kalau Bisa Gratis, Buat Apa Harus Beli?

Membeli Untuk Mengapresiasi

Kalimat sakti itulah yang sering keluar dari mulut kita ketika berhadapan dengan 2 pilihan yang harus dipilih.

Membeli atau minta gratisan.

Dan parahnya, hal ini juga sering terjadi dalam pergaulan sesama teman.

Termasuk teman dekat.

Ngakunya sih teman. Tapi kok malah gak mau mengapresiasi karya temannya?

Katakanlah, ada teman kita yang telah berjuang sekian lama untuk menulis buku, dan akhirnya berhasil membuat bukunya terpampang di rak buku gramedia.

Karena menganggap kita sebagai temannya, dia-pun mempromosikan bukunya kepada kita.

Dengan harapan kita mau membeli buku tersebut. Atau paling tidak, kita mau membantu mempromosikannya.

Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan.

Bukannya membeli atau membantu mempromosikan, kita malah minta diskon.

Bahkan ada yang tega untuk minta secara cuma-cuma (Gratis)!

Wow, ajaib kan?


Sekarang coba pikirkan baik-baik…

Berapa lama waktu yang dia habiskan untuk membuat naskah?

Belum lagi jika harus melakukan proses editing.

Kalau hanya menulis artikel sepanjang 300 – 500 kata seperti di blog ini mungkin gampang.

Tapi ini berbeda.

Ada ratusan halaman yang harus segera dirampungkan dan semuanya membutuhkan fokus dan ketelitian.

Mari Budayakan Membeli Untuk Mengapresiasi

Melalui tulisan kali ini, Saya mengajak kita semua untuk lebih menghargai karya-karya yang ada.

Terlebih lagi jika itu adalah karya orang yang kita sayangi dan dekat dengan kita.

Kalau-pun belum mau dan mampu untuk membeli, paling tidak jangan berkomentar negatif terhadap si pemilik karya.

Jangan cap teman-mu pelit kalau dia gak mau ngasih karyanya secara cuma-cuma.

Dan kalau menemukan versi bajakannya, bantu untuk menghentikan. Atau paling tidak, jangan ikut untuk menyebarkan.

Jika semua orang berpikiran maju seperti ini, akan semakin banyak karya-karya positif yang bermunculan di Indonesia.

Kedepannya, anak-anak sekolah dasar yang ketika ditanya cita-cita nya oleh sang guru, mereka tidak melulu akan mengatakan dokter.

Akan terdengar cita-cita lain seperti penulis buku, web developer, digital marketer, dan profesi lainnya yang dulu terdengar aneh, tapi sangat menjanjikan saat ini dan di masa yang akan datang.

Mengapa?

Karena karya-karya mereka sudah di-apresiasi dengan sangat layak.

Semoga.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *