Merasa Pintar dan Pintar Merasa, Serupa Tapi Tak Sama

Merasa Pintar dan Pintar Merasa.

Sepintas, kedua kata ini terlihat sama. Hanya posisi-nya saja yang berbeda (Dibalik).

Like A Boss

Padahal, keduanya memiliki arti yang berbeda. Bahkan sangat berbeda.

Saya sendiri, pertama kali mendengar istilah ini ketika masih berstatus mahasiswa di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat (2006-2010).

Begini ceritanya.

Waktu itu, Saya yang terlibat dalam suatu kepanitiaan di acara kegiatan kampus, merasa jengkel dengan beberapa teman yang juga merupakan anggota panitia, namun enggan untuk banyak berkontribusi.

Dan ternyata, alasan mereka mengikuti kegiatan tersebut memang bukan untuk mendapatkan pengalaman berharga selaku panitia kegiatan.

Ada yang ikut karena ingin mendapat sertifikat yang bisa dijadikan CV ketika mencari pekerjaan nanti.

Tak sedikit juga yang ikut kepanitiaan karena ingin berkenalan dengan adik-adik juniornya di kampus (You know what i mean).

Dan yang lebih miris, tak sedikit juga yang ikut kepanitiaan hanya karena terpaksa, karena ingin mendapatkan pengakuan dari beberapa orang.

Mungkin tak terlalu jadi masalah jika mereka yang tak banyak berkontribusi, juga tak banyak berkomentar layaknya seorang bos.

Namun yang terjadi justru sebaliknya…

Banyak dari mereka yang merasa pintar, alih-alih pintar merasa.

Saya bukannya bermaksud menjelek-jelekkan, terlebih lagi membuka aib di masa lalu. Toh, Saya juga tak menyebutkan nama.

Yang jelas, kejadian tersebut langsung membuat Saya sadar, bahwa setiap manusia diciptakan dengan keunikan masing-masing oleh Sang Pencipta.

Dan sejatinya, keunikan tersebut Saya yakini secara positif.

Hanya lingkungan dan faktor-faktor tertentu saja yang membuat seseorang memiliki sisi negatif dalam dirinya.

Merasa Pintar dan Pintar Merasa, Which One The Best?

Sampai saat ini, Saya masih sering bertemu dengan orang-orang yang merasa pintar ketimbang pintar merasa.

Banyak yang ingin memberi ketika tau akan diberi.

Sebaliknya, sangat sedikit orang yang mau memberi tanpa mengharapkan balasan.

Sangat sedikit orang yang bisa menjaga perasaan dan hati orang lain.

Kebanyakan orang hanya ingin dimengerti, tapi enggan untuk mengerti orang lain.

Sampai disini, kita semua tentunya sudah bisa menilai mana yang lebih baik antara merasa pintar dan pintar merasa.

Author: Reza Aditya

Blogger || Internet Marketer (SEO) || Entrepreneur (Online Shop)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *