www.domainesia.com
Contact Megoal.reza@gmail.com

Pengorbanan Seorang Ayah Untuk Keluarga: The Invisible Hero

Pahlawan Tak Terlihat

AC Milan, Italia, dan tentunya Timnas Indonesia. Ini adalah 3 Tim sepakbola favorit Saya.

Saya mengenal dan menyukai ke-3 tim ini dari Ayah. Beliau adalah orang pertama yang mengenalkan sepakbola kepada Saya dan Abang.

Sampai sekarangpun Saya masih suka sepakbola. Baik itu bertanding di lapangan, menonton, atau bermain game (Pro Evolution Soccer).

Tapi bukan tentang sepakbola yang ingin Saya share di sini, melainkan tentang Ayah. Sosok pahlawan Saya di masa kecil, sekarang, dan di masa yang akan datang.

Berbeda dengan Mamak (Ibu), Ayah adalah tipe orang yang talk less do more.

Beliau sulit mengungkapkan perasaan dengan perkataan, tapi lebih memilih menunjukkannya dengan tindakan.

Sedikit banyaknya sifat ini menurun ke Saya.

Kalau sedang pulang kampung ke Medan dan ngobrol, beliau hanya berbicara seperlunya.

Tapi dari sorot matanya Saya bisa melihat dengan jelas bahwa ada banyak HAL PENTING yang sedang ia pikirkan.

Jujur, Saya ingin hal itu di share ke Saya.

Saya ingin segera mengambil peran Ayah 100%.

Sudah saatnya beliau istirahat menikmati masa-masa menjelang pensiunnya.

Pagi ini tiba-tiba Saya ingat Ayah.

Bukan karena mendengar lagu Father And Son Ronan Keating & Yusuf Islam yang dulunya memang sering Saya lakukan kalau rindu Ayah (Waktu kuliah di Padang).

Tapi karena mendengar dan meresapi hal lainnya yang tidak bisa Saya publikasikan di sini.

The point is I Miss Him.

Waktu kami masih sekolah, Mamak sering bilang.

“Ayah kalian itu nggak mau dan nggak bisa banyak ngomong. Tapi dia memperhatikan dan memikirkan masa depan Istri dan anak-anaknya. Bahkan keluarga besarnya”

Ayahku Pahlawanku

Mamak benar.

Capeknya Ayah karena lelah bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Bukan karena banyak bicara.

Kalau Mamak mengajarkan Saya untuk bisa bersabar dan belajar memaafkan, Ayah mengajarkan Saya untuk bekerja keras dan berjuang demi keluarga tercinta.

Ada satu hal penting yang ingin Saya lakukan untuk Ayah. Dari dulu Saya ingin melakukan ini. Tapi rasanya sulit.

Saya ingin memeluknya erat dan berbisik “Ayah. Aku sayang Ayah. Kami semua sayang Ayah”

Pahlawan Tak Terlihat

Terlihat sepele? Tidak bagi Saya.

Karena bagi Saya dan mungkin kebanyakan anak laki-laki lainnya, kalimat I love you Dad jauh lebih sulit diucapkan ketimbang I love you Mom.

Bukan karena Saya tidak Sayang Ayah.

Tapi sama seperti beliau, Saya tidak (Belum) pandai mengungkapkan perasaan dengan perkataan.

Khususnya dengan Ayah.

Mungkin Saya masih grogi dan malu berbicara panjang lebar dengan pahlawan Saya.

Malu karena apa yang Saya kerjakan masih belum ada apa-apanya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *